💡

Fokus Terhadap Apa yang Ada Dalam Kendalimu

Mei 07, 2020
Banyak mahasiswa terutama khawatir dengan masa depan mereka, “besok aku mau jadi apa?, “how to makes money fast?”. Khawatir dengan masalah cintanya kemudian melabeli diri sadboy/sadgurl setelah merasa gagal move on dari orang yang padahal tak pernah dimilikinya.


Tapi jika kamu fokus ke rasa sedih dan kekhawatiran ini, apakah akan nyaman hidup selalu dalam rasa khawatir yang konstan dan berlebihan?


Kebanyakan orang hidup dengan ketakutan dan kekhawatiran yang tidak perlu, tentang masa depan atau masa lalu. Kita cenderung terlalu banyak berpikir dan membiarkan rasa takut melumpuhkan kita. Akibatnya, kita menjadi marah, sedih, tertekan, dan kehilangan momen saat ini.


Rasa khawatir yang disebabkan oleh COVID-19 saat ini tentunya hal baik , Seluruh dunia merasa waspada. Itu pertanda baik. Kita memang perlu khawatir sekarang. Tapi tidak untuk selamanya khawatir dan bereaksi berlebihan kemudian berujung malapetaka.


Cease Worrying About Things Which are Beyond the Power of Our Will



Yang diperlukan bagi orang-orang adalah berhenti bereaksi berlebihan dengan alasan “jaga jaga aja bro” yang ditimbulkan dari rasa khawatir berlebihan (mis: menimbun masker lima goni). Kita perlu kesadaran penuh tentang apa yang sebaiknya dilakukan di momen saat ini. Lakukan apa yang kamu bisa dari apa yang kamu punya untuk kebaikan.


Jika kamu benar-benar memahami perbedaan antara, “apa yang dalam kendalimu” dan “tidak dalam kendalimu”, kemudian mampu bertindak selaras dengan keadaan, kamu akan menjadi kuat secara psikologis, tahan banting terhadap lika-liku kehidupan.


Epictetus seorang filsuf yang mazhab Stoisismenya berkembang pada abad kedua Masehi, memberitahu kita
“There is only one way to happiness and that is to cease worrying about things which are beyond the power of our will”.



Saya sangat mengapresiasi Orang-orang yang ada di garis depan melawan COVID-19. Berada di garis terdepan bukan pekerjaan mudah, mereka rela memberikan yang mereka bisa sebagai dokter, perawat, buruh, ayah yang bekerja demi keluarga di tengah pandemi ini, bertaruh waktu dan kesehatan mereka sendiri. Mereka adalah pahlawan.