πŸ’‘

Orang-Orang Overthinking

Mei 14, 2020
Overthinking terjemahan bebasnya memiliki arti, berfikir berlebihan. Perilaku ini adalah kondisi dimana orang menjadi terlalu banyak pertimbangan, orang dengan karakter overthinking seringkali dianggap sebagai orang yang banyak mikir, overthinking membuat pikiranmu penuh dengan hal-hal yang tak perlu dan meningkatkan resiko kesehatan mental.


Situasi overthinking bukan hal yang keren sebenarnya melainkan menyesakkan pikiran, namun di internet sedang banyak orang yang menyematkan label ini ke dirinya, entah untuk keren-kerenan, atau memang akhir-akhir ini sedang banyak orang memiliki isu ini di dirinya.

Overthinking juga sama populernya seperti kata Anxiety, anxiety berarti gangguan psikologis dimana seseorang mengalami kecemasan berlebih, hingga mengganggu aktivitas sehari-harinya. Anxiety menjadi buzzword di media sosial. Apakah memang semakin banyak orang mengalami masalah mental?.

Apakah gangguan mental sudah diromantisasi sedemikian rupa saat ini, sehingga menjadi hal yang dianggap keren jika suatu individu memilikinya?

Dewasa ini, gangguan mental menjadi didambakan, seolah-olah mereka iri kepada orang yang memiliki gangguan mental, karena menjadi pusat perhatian dan dianggap abnormal. Mereka diluar kewajaran, dan hal yang normal itu membosankan dan dianggap basi, mereka ingin berbeda, menjadi identitas yang unik.

Didukung oleh Kemudahan Akses Self-Diagnosis


Dalam psikoanalisis ada namanya, Self-Diagnosis, dimana individu bisa melakukan diagnosa terhadap dirinya sendiri, aktivitas ini menjadi lumrah di zaman internet ini, banyak orang-orang mengambil tes online tentang gejala gangguan mental tertentu, kemudian dengan gegabah melabeli diri sendiri memiliki gangguan mental tanpa mereka didiagnosa oleh professional.

Ketika individu menikmati suatu film/video/cerita, rasa empati muncul karena individu ini merasa kemiripan dengan dirinya dan karakter di dalam film, bisa jadi hobi yang sama, gaya hidup atau prinsip, sama-sama sedang kesepian.

Setelah individu merasa relate dengan karakter yang ada di film, dia berusaha mengidealkan dirinya dengan karakter "wah keknya ini aku banget deh", setelah itu individu mengklaim bahwa ia juga punya gangguan mental seperti yang dialami karakter di dalam film, setelah melakukan tes online seadanya, selesai sudah individu ini melakukan diagnosa dan melabeli dirinya seorang yang depresi, kemudian mengupload story media sosialnya dengan quotes JOK3R.

Apakah orang yang mengalami gangguan mental meningkat seiring waktu di abad 21 ini? Apakah depresi adalah pandemi global?

Oleh karena rasa penasaran ini, saya mencoba mencari referensi atau penelitian yang berkaitan tentang tren problem kesehatan mental.

Berdasarkan penelitian Richter Dkk. (2019), ditemukan bahwa tidak ada peningkatan berarti, peningkatan kecil pengidap gangguan mental dewasa ini disebabkan oleh perubahan demografi saja, artinya gangguan mental bukan sebuah pandemi yang sedang meningkat.

Tetapi Twenge di penelitiannya mengatakan, bahwa tren budaya 10 tahun kebelakang punya impact besar terhadap gangguan mood dan kasus bunuh diri yang terjadi pada generasi muda dibanding generasi yang lebih tua.

Anak muda memang masa pencarian jati diri, mereka senang melabeli dirinya dengan tokoh idola mereka, idola yang mati bunuh diri dianggap keren oleh anak muda, katakanlah Kurt Cobain vokalis band nirvana, mereka ingin menuju nirvana seperti yang dilakukan Kurt Cobain, mengikuti prinsip hidup idolanya.

Orang-orang mungkin tak bisa memilih untuk terlahir dengan genetik yang rentan terhadap gangguan jiwa, atau memiliki masa lalu yang traumatis, tapi kita bisa memilih tentang bagaimana persepsi kita menghadapi hidup, bagaimana usaha kita untuk menjaga kesehatan mental dan menciptakan lingkungan yang mendukung bagi kita dan teman-teman dengan gangguan mental.

Jika kamu mengalami gejala gangguan jiwa, ingat jangan terbawa arus self diagnosa yang berujung kepada diagnosa yang sesat, oleh karena itu penting sekali meminta pertolongan professional, atau jika terkendala ekonomi bisa melakukan terapi mandiri CBT untuk masalah anxiety dan depresi terbukti efektif, namun tentunya dibantu therapist akan lebih baik :)


Referensi:


Richter, D., Wall, A., Bruen, A., & Whittington, R. (2019). Is the global prevalence rate of adult mental illness increasing? Systematic review and meta‐analysis. Acta Psychiatrica Scandinavica, 140(5), 393-407.

Jean M. Twenge, A. Bell Cooper, Thomas E. Joiner, Mary E. Duffy, Sarah G. Binau. Age, period, and cohort trends in mood disorder indicators and suicide-related outcomes in a nationally representative dataset, 2005–2017.. Journal of Abnormal Psychology, 2019; DOI: 10.1037/abn0000410